Monday, 15 November 2010

Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutupnya pada Operkulum Ikan

i. Judul
“Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutupnya pada Operkulum ikan”

ii. Pendahuluan
1. latar belakang
Indonesia merupakan negara maritim yaitu sebagaian besar wilayahnya adalah perairan. Dalam suatu perairan pasti ada suatu organisme yang hidup di dalamnya, yaitu salahsatunya ikan.
Ikan atau bahasa ilmiahnya adalah picses secara umum adalah termasuk hewan bertulang belakang (vertebrata). Ikan adalah hewan berdarah dingin (polikilotermis). Suhu tubuhnya selalu mengikuti suhu lingkungannya sehingga suhu badannya turun naik bersama-sama dengan turun naiknya suhu sekitarnya. Ikan berkembang biak dengan cara bertelur. Ikan betina mengeluarkan telurnya ke dalam air, demikian pula ikan jantan mengeluarkan spermanya ke dalam air, sehingga pembuahan terjadi di luar tubuh induknya.
Pembuahan yang terjadi di luar tubuh induknya disebut pembuahan eksternal.
Ditubuh ikan terdapat gurat sisi yang berfungsi untuk mengetahui tekanan air di sekelilingnya. Ikan menggunakan ingsan yang terletak di kepalanya untuk bernafas. Cara ikan bernafas adalah sebagai berikut, air masuk melalui rongga mulut kemudian masuk dalam insang, saat air ada di dalam insang, oksigen ang terlarut dalam air diserap oleh pembuluh- pembuluh darah kecil yang terdapat pada insang dan karbondioksida dalam darah dikeluarkan ke air. Air kelur dari rongga insang ketika tutup insang membuka dan begitu terus-menerus. Ikan juga mempunyai gelembung renang yang terletak diantara tulang belakang dan perut, berhubungan dengan kerongkongan. Darah pada dinding gelembung dapat memasukkan udara kedalam gelembung dan mengeluarkan udara dari gelembung itu sehingga berat ikan dapat berkurang atau bertambah sehingga ikan dapat naik dan turun di dalam air.
Dari masing-masing karakteristik yang dimiliki ikan, ditemukan satu pemikiran bahwa suhu juga berpengaruh dalam proses hidup ikan. Biasanya suhu berperan penting terhadap adaptasi fisiologi. Penyesuaian fungsi alat-alat tubuh terhadap keadaan lingkungan ini yang kemudian menyangkutkan operkulum sebagai salah satu organ tubuh yang ikut andil dalam adaptasi fisiologi. Operkulum ikan yang membuka dan menutup sangat bergantung terhadap suhu air sebagai media hidup ikan.
Sebagai mahasiswa perikanan dan ilmu kelautan, kita diharuskan untuk mengetahui hal-hal tersebut. Oleh karena itu, maka dilakukanlah praktikum “Pengaruh Suhu Terhadap Membuka dan Menutupnya pada Operkulum ikan” ini.

2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui dan memahami pengaruh suhu terhadap gerak operkulum ikan

3. Landasan teori
Fisiologi ikan mencakup proses osmoregulasi, sistem sirkulasi, sistem respirasi, bioenergetik dan metabolisme, pencernaan, organ-organ sensor, sistem saraf, sistem endokrin dan reproduksi (Fujaya,1999).
 Suhu
Suhu menurut Kangingan (2007:52-53) adalah suatu besran yang menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda.
Suhu menunjukkan derajat panas benda.n Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Suhu juga disebut temperatur.Benda yang panas memiliki suhu lebih tinggi dibandingkan benda yang dingin.
Suhu juga disebut temperatur . Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Namun dalam kehidupan sehari-hari, untuk mengukur suhu masyarakat cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid.


 Termometer
Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu (temperatur), ataupun perubahan suhu. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang berarti bahang dan meter yang berarti untuk mengukur. Prinsip kerja termometer ada bermacam-macam, yang paling umum digunakan adalah termometer air raksa.

 Pernapasan
Pernapasan adalah proses pengikatan oksigen dan pengeluaran karbondioksida oleh darah melalui permukaan alat pernapasan. Proses pengikatan oksigen tersebut dipengaruhi struktur alat pernapasan, juga dipengaruhi perbedaan tekanan parsial O2 antara perairan dengan darah. Perbedaan tersebut menyebabkan gas-gas berdifusi ke dalam darah atau keluar melalui alat pernapasan.

AlatPernapasan

a). insang
Pada hampir semua ikan, insang merupakan komponen penting dalam pertukaran gas. Insang terbentuk dari lengkungan tulang rawan yang mengeras, dengan beberapa filamen insang di dalamnya. Tiap-tiap filamen insang terdiri atas banyak lamella yang merupakan tempat pertukaran gas. Struktur lamella terdiri atas sel-sel epitel yang tipis pada bagian luar, membran dasar, dan sel-sel tiang sebagai penyangga pada bagian dalam. Pinggiran lamella yang tidak menempel pada lengkung insang sangat tipis, ditutupi oleh epitelium dan mengandung jaringan pembuluh darah kapiler. Jumlah dan ukuran lamella sangat besar variasinya, tergantung tingkah laku ikan.

b) Paru-paru
Paru-paru merupakan derivat gelembung renang. Pada ikan paru Australia Neocaratodus, paru-paru terletak di sebelah atas saluran pencernaan tetapi duktus pneumatikusnya terbuka ke arah bagian bawah dinding lambung. Sebaliknya, ikan paru Afrika Protopterus , sepasang paru-parunya terletak di sebelah bawah saluran pencernaan.
Baik ikan paru Australia maupun Afrika memiliki keharusan menghirup oksigen dari udara. Karena itu, jenis ikan ini mempunyai kemampuan untuk beradaptasi pada kondisi sangat kering dilingkungannya.
Alat pernapasan tambahan
Selain insang atau paru-paru, beberapa jenis ikan memiliki alat pernapasan tambahan yang dapat mengambil oksigen secara langsung dari udara. Contoh alat pernapasan tambahan pada ikan:
1) Arborescent organ pada ikan Lele Clarias sps, merupakan insang tambahan berbentuk pohon di bagian atas lengkung insang kedua dan ketiga, berfungsi mengambil oksigen dari atas permukaan air.
2) Kulit merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Blodok Periopthalmus dan Boleopthalmus, di samping itu penutup insang yang berkembang berlipat-lipat dan bagian dalamnya terdapat banyak pembuluh darah.
3) Labirinth, merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan Betok Anabas testudineus Ikan-ikan yang memiliki alat pernapasan tambahan mampu bertahan hidup dalam kondisi hypoxia, bahkan anoxia.
4) Divertikula, merupakan alat pernapasan tambahan pada ikan gabus.

iii. Bahan dan Alat
Alat
1) Beaker glass sebagai tempat untuk pengamatan ikan
2) Wadah pelastik sebagai tempat sampel ikan sebelum diamati
3) Water bath sebagai tempat penangas air
4) Freezer sebagai tempat pembuat es batu
5) Palu untuk memecah bongkahan es
6) Thermometer Hg untuk mengukur suhu air
7) Hand counter untuk menghitung bukaan operculum
8) Stopwatch untuk mengamati waktu

Bahan
1) 5 ekor Benih ikan nila
2) Stok air panas untuk mengubah suhu air sesuai perlakuan
3) Stok es untuk mengubah suhu air


iv. Cara kerja
1) Masukkan air ke dalam masing-masing wadah plastic dan beaker glass.
2) Masukan benih ikan nila kedalam wadah plastik pertama dan ukur suhu pada baker glass, catat!
3) Masukkan benih ikan uji pertama 1 ekor ke dalam baker glass yang sudah ditentukan suhunya. Kenudian hitung banyaknya gerakan membuka dan menutup operculum ikan tersebut selama 1 menit. Catat! Ulangi sampai tiga kali
4) Keluarkan ikan yang telah diamatai dari beaker glass dan masukan kedalam wadah plastic
5) Untuk ikan kedua sampai ikan kelima, perlakuan sama seperti pada poin 3 dan 4
6) Setelah perlakuan pertama selesai, dilanjutkan perlakuan kedua yaitu menaikan suhu sebanyak 3oC dari suhu kamar, dengan cara menambahkan air panas dari water bath sehingga didapatkan suhu yang sudah ditentukan.
7) Ulangi percobaan seperti pada point 3 sampai 5
8) benih ikan dan air pada beaker glass maupun wadah plastic diganti dengan yang baru
9) Ulangi percobaan seperti pada poin 1 samapai 5
10) Selanjutnya atur suhu supaya 3C dibawah suhu kamar yaitu denga cara menambahkan es yang telah disediakan kedalam baker glass, kemudian ukur dengan thermometer sampai suhu yang diperlukan tercapai.
11) Pertahankan supaya suhu tetap stabil, ulangi perlakuan seperti point 3 sampai 5
12) Catat hasil tersebut dalam table pengamatan

v. Hasil pengamatan dan pembahasan
1). Data hasil pengamatan
Percobaan pertama dengan suhu kamar
Ikan 1 100 102 111 104,3
Ikan 2 151 149 145 148,3
Ikan 3 74 93 96 87,6
Ikan 4 97 117 125 113
Ikan 5 108 130 127 121,6

Percobaan kedua dengan +3C dari suhu kamar
Ikan1 138 131 137 135,3
Ikan 2 162 136 157 151,6
Ikan 3 98 107 106 103,6
Ikan 4 123 146 129 132,6
Ikan 5 165 171 175 170,3

Percobaan ketiga dengan suhu kamar
Ikan 1 153 164 157 158
Ikan 2 172 166 166 168
Ikan 3 148 141 151 146,7
Ikan 4 167 171 157 165
Ikan 5 161 156 154 157

Percobaan keempat dengan suhu kamar -3C dari suhu kamar
Ikan 1 143 137 124 134,7
Ikan 2 148 138 139 141,7
Ikan 3 95 101 98 98
Ikan 4 138 136 141 138,3
Ikan 5 138 153 138 143

b). Pembahasan
pada table pertama adalah perlakuan terhadap kelima benih ikan, masing-masing tiga kali diulangi. Pada perlakuan kali ini suhu kamar menunjukan 25C. selanjutnya table kedua adalah perlakuan terhadap kelima ikan, masing-masing tiga kali diulangi, tetapi suhu menunjukan 28C setelah ditambahkan air panas.
Pada table ketiga dan keempat, air, dan ikan yang digunakan adalah berbeda dengan perlakuan table pertama dan kedua. Pada table ketiga, perlakuan sama seperti table pertama. Untuk table keempat juga sama dengan table pertama, namun suhu yang digunakan adalah 22C setelah ditambahkan es batu.
Kenaikan atau penurunana pembukaan rata-rata operculum ikan, bisa dilihat dikolom lima pada setiap tabel.Dari praktikum diatas tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan suhu lingkungan pada ikan itu sangat mempengaruhi laju konsumsi oksigen pada ikan tersebut, dalam suhu kamar kebutuhan oksigen lebih optimal sehingga gerakan membuka serta menutupnya operculum stabil.
Kenaikan suhu pada suatu peraiaran menyebabkan kelarutan oksigen (DO) Dissolve Oksigen di peraiaran tersebut akan menurun, sehingga akan kebutuhan organisme air terhadap oksigen semakin bertambah dengan pergerakan operculum yang semakin cepat.
Penurunan suhu pada suatu perairan dapat menyebabkan kelarutan oksigen dalam perairan itu meningkat sehingga kebutuhan organisme dalam air terhadap oksigen semakin berkurang, hal ini menyebabkan jarangnya frekuensi membuka serta menutupnya overculum pada ikan tersebut makin lambat.

Terdapat hubungan antara peningkatan temperature dengan laju metabolisme biasanya 2 – 3 kali lebih cepat pada setiap peningkatan suhu 10° C, aklimasi pada ikan dilakukan agar ikan tidak mengalami stress pada saat berlangsungnya pengamtan tersebut.

vi. Kesimpulan
jadi permyataan bahwa ikan adalah hewan poikiloterm adalah benar. Karena ikan memang suhu tubuhnya mengikuti suhu lingkungannya, dibuktikan dengan gerakan membuka dan menutup operculum ikan tersebut.
Suhu yang diatur akan akan menimbulkan efek membuka dan menutup operculum ikan tersebut dari stabil akan menjadi semakin cepat atau semakin lambat. Ketika suhu dinaikan, gerakan operculum semakin cepat dan ketika suhu diturunkan gerakan operculum menjadi lambat.

vii. Daftar pustaka

http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpp-gdl-qoriaturro-25751
http://www.scribd.com/doc/35386449/Laporan-Praktikum-Pengaruh-Suhu-Terhadap-Gerak-Operkulum-Pada-Ikan
http://www.scribd.com/doc/25244199/Penelitian-Penyesuaian-Hewan
http://www.findtoyou.com/document/gerak+operkulum+ikan.html

No comments:

Post a Comment