Monday, 15 November 2010

Sejarah Organisasi Renang Di Indonesia

Semenjak Indonesia belum mendapatkan kemerdekaan, di negara kita (INDONESIA) telah ada beberapa kolam renang yang indah dan baik. Akan tetapi pada waktu itu, kesempatan bagi orang-orang Indonesia untuk belajar berenang tidak mungkin. Hal ini disebabkan setiap kolam renang yang dibangun hanyalah diperuntukkan bagi para bangsawan dan penjajah saja. Memang pada waktu itu ada juga kolam renang yang dibuka bagi masyarakat banyak, akan tetapi harga tiket masuk sangat sedemikian tingginya, sehingga para pengunjung tertentu terutama rakyat Indonesia yang miskin harta tidak bisa membayar tiket masuk untuk berenang.

Bicara soal kolam renang di Indonesia, salah satu dari sekian banyak kolam renang yang dibangun setelah tahun 1900 adalah kolam renang Cihampelas di Bandung yang didirikan pada tahun 1904. Sesuai dengan tempat kelahiran kolam renang Cihampelas, maka awal dari kegiatan olahraga renang di Indonesia dapat dikatakan dan dimulai dari Bandung. Setelah itu persatuan persatuan atau perkumpulan perkumpulan berenang pun bermunculan. Pertama-tama berdirilah perserikatan berenang diberi nama Bandungse Zwembond atau Perserikatan Berenang Bandung, didirikan pada tahun 1917, perserikatan ini membawahi sekitar 7 perkumpulan yang diantaranya adalah perkumpulan renang di lingkungan sekolah seperti halnya OSVIA, MULO dan KWEEKSCHOOL.

Selain di Bandung, di Jakarta dan di Surabaya juga mendirikan perkumpulan-perkumpulan berenang dalam tahun yang sama. Kemudian barulah pada di tahun 1918 berdiri West Java Zwembond atau Perserikatan Berenang Jawa barat dan pada tahun 1927 berdiri pula Oost Java Zwembond atau Perserikatan Berenang Jawa Timur yang beranggotakan kota-kota seperti : Malang, Surabaya, Pasuruan, Blitar dan Lumajang. Sejak saat itu pula mulai diadakan pertandingan pertandingan antar kota maupun antar daerah. Bahkan dalam kejuaraan-kejuaraan itu, munculah banyak rekor dari para perenang dan rekor-rekornya itu juga menjadi rekor di negeri Belanda.

Di tahun 1936, ada perenang yang berhasil mencatatkan rekor ialah Pet Stam seorang Hindia Belanda berdasarkan rekornya 0:59.9 untuk 100 meter gaya bebas yang dicatat di kolam renang Chiampelas Bandung, Pet Stam berhasil dikirim untuk ambil bagian dalam Olimpiade Berlin atas nama negeri Belanda. Dan ada pula dua orang peloncat indah masing-masing Haasman di bagian putera dan Kiki Heckle turut pula ambil bagian dalam Olimpiade Berlin, dimana peloncat putri menduduki urutan ke 8.

Hingga pada tahun 1940, Nederlands Indishce Zwembond atau NIZB telah beranggotakan 12.00 perenang. Dan pada zaman pendudukan Jepang tahun 1943 – 1945, kesempatan untuk bisa berenang bagi bangsa Indonesia semakin besar. Oleh karena pemerintahan pendudukan Jepang membuka seluruh kolam renang di tanah air untuk masyarakat umum. Di periode tahun 1945, perkembangan olahraga renang di tanah air Indonesia praktis menurun, dikarenakan pada saat itu bangsa Indonesia dalam kancah perjuangan melawan penjajah Jepang.

Hingga tanggal 20 Maret 1951, kemudian dunia renang Indonesia praktis berada di bawah pimpinan Zwembond Voor Indonesia (ZBVI) dan kemudian sejak tanggal 21 Maret 1951 lahirlah Persatuan Berenang Seluruh Indonesia yang kemudian disingkat PBSI. Kongresnya yang pertama di Jakarta, berhasil mengukuhkan Ketua yang pertama, Prof. dr. Poerwo Soedarmo, dibantu oleh wakil ketua, sekretaris, bendahara dan komisi teknik. Sejak saat itu, olahraga renang Indonesia setahap demi setahap maju dan berkembang serta selanjutnya dalam tahun 1952, PBSI menjadi anggota resmi dari Federasi Renang Dunia – FINA (singkatan dari Federation Internationale de Nation). dan International Olympic Committee (IOC).

Hingga pada tahun 1952 telah terdaftar sebanyak 29 perkumpulan, tergabung dalam PBSI. Oleh karena itu kemudian didirikan top-top organisasi olahraga berenang di tingkat daerah. Dari situ perkembangan olahraga berenang di Indonesia kian hari kian berkembang, hal ini ditandai dengan penyelenggaraan perlombaan renang hampir setiap tahun di tingkat nasional. Begitu pula halnya dalam setiap pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON), cabang olahraga renang menjadi nomor-nomor utama yang di pertandingkan.

Dengan makin berkembangnya prestasi olahraga renang di Indonesia pada tahun 1952, Indonesia mengirimkan duta-duta renangnya ke arena Olympiade di Helsinki, kemudian pada tahun 1953 kembali Indonesia ambil bagian dalam Youth Festival di Bukarest. Pada tahun 1954 regu polo air Indonesia dikirim untuk mengikuti Asian Games ke II di Manila, Philipina. Pada tahun 1954, berlangsung kongres PBSI ke II, diselenggarakan di Bandung dengan menghasilkan susunan pengurus yang diketuai oleh D. Seoprajogi, ditambah satu sekretaris, bendahara dan 3 komisi teknik. Kongres PBSI yang ke III diselenggarakan di Cirebon, dimana dalam kongres ini memilih kembali kepengurusan baru yang ketuanya masih tetap di jabat D. Soeprajogi, ditambah 3 pengurus lainnya.

Untuk ke IV kalinya PBSI menyelenggarakan kongres pada tahun 1957 di Makasar (sekarang Ujung Pandang) Kongres ini menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya memilih susunan kepengurusan yang baru dengan ketua D. Soeprajogi. Kemudian atas permintaan peserta kongres tersebut istilah persatuan dalam singkatan PBSI, diganti menjadi Perserikatan. Dengan demikian PBSI dalam hal ini menjadi sebuah singkatan dari Perserikatan Berenang Seluruh Indonesia.

Di tahun 1959 diadakan Kejuaraan Nasional Renang. Kejuaraan ini untuk pertama kalinya mengadakan pemisahan antara Senior dan Junior di Malang, Jawa Timur. Berlangsung pula kongres PBSI ke V, dimana pada kongres itu disamping memilih kepengurusan baru yang ketuanya masih tetap dipercayakan kepada D. Soeprajogi, juga kongres ini merubah nama Perserikatan Berenang Seluruh Indonesia (PBSI) menjadi Perserikatan Renang Seluruh Indonesia (PRSI). Perubahan ini timbul dengan pertimbangan bahwa terdapatnya dua induk organisasi olahraga yang mempunyai singkatan sama PBSI. Selain cabang olahraga renang, singkatan ini juga digunakan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia. Pada Kongres di Malang Jawa Timur Ketua PRSI, D. Soeprajogi di dampingi oleh 2 wakil ketua, dua sekretaris, bendahara, pembantu umum ditambah komisi teknik dengan 2 orang anggota.

Kemajuan olahraga renang di Indonesia secara keseluruhan berkembang kian pesat dan dalam tahun 1962, berhasil menampilkan nama-nama besar seperti Achmad Dimyati, Mohamad Sukri di bagian putera, sementara Iris, Tobing, Lie Lan Hoa, Eny Nuraeni serta banyak lagi di bagian puteri. Dalam tahun 1963 di Jakarta, kembali PRSI menyelenggarakan kongres dan berhasil menyusun kepengurusan baru dengan ketua umum D. Soeprajogi.

Selanjutnya di dampingi 3 orang ketua, 2 orang perenang, loncat indah dan polo air. Keputusan lain yang diperoleh dalam kongres PRSI ke VI itu adalah merubah kembali istilah \”Persatuan\”. Hingga sekarang PRSI merupakan singkatan dari Persatuan Renang Seluruh Indonesia. Meskipun dalam falsafahnya bahwa olahraga itu tidak bisa dikaitkan dengan politik. Namun dalam kenyatannya perkembangan politik di dalam negeri pada waktu itu membawa pengaruh besar terhadap perkembangan olahraga.
Pada tahun 1963 Indonesia harus mengundurkan diri dari pesta olahraga GANEFO, dikarenakan dimana pesertanya ada beberapa negara yang memang belum menjadi anggota FINA. Untuk menghindarkan kemungkinan adanya skorsing, Indonesia dalam hal ini PRSI mengambil langkah pengunduran diri sebagai anggota FINA. Pada tahun 1966, Indonesia kembali menjadi anggota FINA. Pada tahun itu pula Indonesia mengambil bagian dalam Asian Games ke V di Bangkok.

Kemudian musyawarah PRSI ke VII berlangsung kembali di Jakarta pada tanggal 24 - 27 April 1968. Salah satu keputusannya mengukuhkan kepengurusan baru PRSI dengan ketua umum tetap dipercayakan kepada D. Soeprayogi, di tambah dengan 2 orang ketua, 2 sekretaris, bendahara dan panitia teknik yang terdiri atas 3 orang masing-masing untuk renang, loncat indah dan polo air.

Source:
http://mszzz.wordpress.com/2009/04/08/sejarah-prsi/

Read More......

Membangun Ekonomi Kelautan Dengan Mengoptimalisasi Potensi Ekonomi Kelautan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki wilayah laut lebih besar daripada luas daratannya. Laut Indonesia memiliki luas kurang lebih 5,6 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 95.181 km, terdiri atas 0,3 juta km2 perairan teritorial, 2,8 juta km2 perairan pedalaman dan kepulauan, serta 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Dengan potensi sumberdaya, baik dari segi kuantitas dan diversitasnya. Selain itu Indonesia tetap berhak untuk berpartisipasi dalam pengolaan dan pemanfaatan kekayaan alam di laut lepas di luar batas 200 mil laut ZEE, serta pengelolaan dan pemanfaatan kekayaan alam dasar laut perairan internasional di luar batas landas kontinen. Disini nampak bahwa kepentingan pembangunan ekonomi di Indonesia lebih memanfaatkan potensi sumberdaya daratan daripada potensi sumberdaya perairan lautnya.

Pada masa kerajaan nusantara dahulu memang benar perdagangan laut dan armada laut (admiral) kita sangat menonjol. Ini membuktikan bahwa orientasi pembangunan kemaritiman negara kita telah maju pada saat itu. Tapi di sisi lain kita tidak bisa menafikan bahwa pada hakikatnya kultur agrarislah yang lebih dominan dalam nadi budaya bangsa. Jadi disini kita melihat fakta terdahulu bahwa pembangunan lautan dan daratan sudah menjadi budaya bangsa. Perlu diterangkan bahwa antara istilah kelautan dan maritim harus dibedakan. Kelautan merujuk kepada laut sebagai wilayah geopolitik maupun wilayah sumberdaya alam, sedangkan maritim merujuk kepada kegiatan ekonomi yang terkait dengan perkapalan, baik armada niaga maupun militer, serta kegiatan ekonomi yang berhubungan dengan itu seperti industri maritim dan pelabuhan. Dengan demikian kebijakan kelautan merupakan dasar dari kebijakan maritim sebagai aspek aplikatifnya. Indonesia memiliki potensi maritim yang sangat strategis maka seharusnya diperlukan melakukan revitalisasi pembangunan yang kompromis.

Inilah potensi besar bangsa ini yang harus terus menerus di revitalisasi secara berkelanjutan, berimbang dan berwawasan lingkungan. Tetapi dalam sejarah kehidupan manusia bahwa kekayaan alam (nature resources) bukanlah faktor dominan pembangunan suatu bangsa. Tetapi modal utama pembangunan sejatinya adalah pembangunan sumberdaya manusia (human resources) itu sendiri. Konsep negara kepulauan (nusantara) memberikan kita sebagai bangsa ini anugrah yang luar biasa. Letak geografis negara ini strategis, diantara dua benua dan dua samudera dimana paling tidak 70% angkutan barang melalui laut dari Eropa, Timur tengah, dan Asia Selatan ke wilayah pasifik dan sebaliknya harus melalui perairan negara kita.

Wilayah Laut yang demikian luas, dengan 17.500an pulau-pulau yang mayoritas kecil memberikan akses pada sumberdaya alam seperti pada ikan, terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi yang tinggi, wilayah wisata bahari, sumber energi terbarukan maupun minyak dan gas bumi, mineral langka dan juga media perhubungan antar pulau yang sangat ekonomis. Ekonomi kelautan makin strategis seiring pergeseran pusat kegiatan ekonomi dunia dari poros Atlantik ke poros Pasifik. Hampir 70persen dari total perdagangan dunia berlangsung di kawasan Asia Pasifik dan 75persen dari barang-barang yang diperdagangkannya ditransportasikan melalui laut Indonesia (Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Makasar dan Laut-laut lainnya). Seharusnya Indonesia mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari posisi kelautan global tersebut.

Dan sekarang dalam era persaingan global, di mana batas antar negara menjadi kabur, tiap-tiap negara berupaya membangun dan memperkuat positioning industri dalam negeri. Indonesia sebagai negara yang disebut akan menjadi kekuatan ekonomi global dan dikelompokkan ke dalam BRIIC (Brasil, Rusia, India, Indonesia, China) perlu mempersiapkan diri. Posisi keunggulan bersaing (competitive advantage) biasanya dibangun secara bertahap dan berbasis sumberdaya yang dimiliki. Indonesia perlu dengan segera mengidentifikasi potensi-potensi yang dapat menjadi sumber keunggulan bersaing. Desain pembangunan nasional selama ini terkesan masih bertumpu pada optimalisasi sumber daya di darat, seperti penjelasan di atas.

Kebijakan sektor pertanian, perkebunan dan peternakan terus dioptimalkan dalam beberapa dekade. Padahal Indonesia memiliki potensi laut berlimpah. Mengoptimalisasi semua potensi yang terdapat di dalamnya dapat dijadikan sumber keunggulan bersaing Indonesia di masa depan. Perlu adanya upaya usaha yang serius dari semua pihak untuk membangun industri nasional berbasis kelautan yang terintegrasi dari sektor hulu-hilir. Indonesia memiliki potensi ekonomi pesisir (coastal economy) yang belum diberdayakan. Bentangan pantai di Indonesia mencapai 95.181 km. Garis pantai Indonesia ini tercatat sebagai yang terpanjang keempat di dunia. Berbekal dari faktor geografis ini ekonomi pesisir sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar.
Salah satu hasil pesisir yang telah terbukti memberikan kontribusi signifikan secara nasional adalah industri rumput laut. Indonesia kurang lebih memasok 50% rumput laut gelondongan dunia.

Potensi ekonomi pesisir seperti rumput laut telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia. Ini tentu memberikan pemasukan bagi negara, pekerja yang dilibatkan, dan kontribusi kepada penduduk Indonesia yang mayoritas tinggal di pesisir. Berbekal prestasi di atas dan peluang untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada, rumput laut sangat vital untuk diperhatikan oleh pemerintah, baik ditingkat pusat maupun daerah. Demi meningkatkan potensi tersebut, pemerintah perlu merancang desain kluster ekonomi pesisir, sehingga dapat meningkatkan daya saing nasional. Kedepan, industri turunan rumput laut perlu dibangun untuk menciptakan nilai tambah secara nasional. Industri rumput laut Indonesia tentunya akan sulit untuk disaingi oleh negara-negara lain.

Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan 2008, ekspor rumput laut dalam bentuk olahan hanya mencapai 15%. Sisanya dalam bentuk gelondongan. Karena itu, desain kluster yang dapat mendukung industri rumput laut diharapkan dapat mendorong terciptanya industri yang memberikan nilai tambah bagi rumput laut. Tentunya optimalisasi ekonomi pesisir tidak dapat dilakukan sendirian oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Diperlukan political dan good will untuk menyinergiskan strategi dan kebijakan nasional demi mendukung industrialisasi daerah pesisir di Indonesia.

Kementerian Keuangan, Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM perlu duduk bersama untuk memfokuskan strategi pengembangan ekonomi daerah. Selain peran dari beberapa kementerian di atas, ekonomi pesisir ini sangat erat hubungannya dengan kualitas pengamanan aparatur pemerintahan. Coba bayangkan jika kita dapat menjaga kelestarian sumber daya laut dan mencegah pencurian yang jumlahnya sampai puluhan ribu kasus serta mengakibatkan kerugian negara sekitar Rp36,5 triliun setiap tahunnya. Sinergi perlu dibangun untuk menyediakan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, khususnya tenaga-tenaga terampil yang akan mengembangkan industri-industri tersebut. Peran perguruan tinggi dan industri diperlukan untuk mempersiapkan SDM yang relevan.

Pada akhirnya, dibutuhkan hubungan pemerintah, perguruan tinggi, dan industri untuk dapat menciptakan hasil yang optimal. Di dalam pembangunan ekonomi pesisir ini pemerintah dituntut untuk dapat membuat kebijakan yang berorientasi peningkatan daya saing nasional. Sinergi ketiga pihak dalam kerja sama yang harmonis inilah yang kita butuhkan. Selain itu, strategi dan kebijakan di bidang kelautan perlu segera dibenahi guna mengoptimalkan potensi kelautan, baik menyangkut sumber daya laut maupun bisnis transportasinya. Sektor kelautan butuh pemihakan lewat kebijakan fiskal dan moneter.

Kebijakan yang mengutamakan potensi industri dalam negeri, baik industri perikanan maupun industri pelayaran perlu dijalankan secara konsisten sesuai Undang-Undang yang berlaku. Selain itu, seluruh pelaku sektor kelautan, terutama dunia usaha dan pemerintah, perlu bersatu untuk mewujudkan Indonesia Fishery Incorporated
Masalahnya pengembangan potensi kelautan terbentur hambatan struktural. Belum ada kesadaran politis secara nasional tentang betapa besarnya potensi ekonomi perikanan dan kelautan. Pentingnya pemihakan kebijakan untuk sektor kelautan, baik melalui kebijakan makro, fiskal, dan moneter.

Kelautan masih ditempatkan sebagai halaman belakang, sebagai sektor yang termarjinalkan. Agar laut bisa dijadikan halaman depan, perlu kesadaran politik yang kuat. Sebenarnya ini sudah dirintis Gus Dur ketika beliau menjadi presiden. Dan pemerintah harus segera membangun dan memperbaiki infrastruktur di sektor perikanan dan kelautan yang masih lemah. Tanpa upaya itu, sektor ini akan tertinggal sangat jauh dibanding negara kompetitor. Dan pada jangka panjangnya pemerintah harus melakukan perubahan orientasi pendidikan ke arah rasionalitas ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran akan sumber-sumber keunggulan kompetitif, kepekaan budaya, kedalaman budi pekerti yang luhur dan penanaman sifat menyikapi tantangan perubahan secara positif.

Saya kira, kita masih punya banyak kesempatan dan banyak peluang yang terbuka lebar di depan mata. Dan disamping pada saat ini sebenarnya juga telah muncul banyak harapan besar pada Indonesia untuk kembali maju memimpin dunia dengan mengembangkan atau mengoptimalisasi potensi ekonomi dari sektor kelautan di Indonesia.

Read More......

Pemisahan Senyawa Dengan Kromatografi Lapis Tipis

Pemisahan Senyawa Dengan Kromatografi Lapis Tipis

Tujuan:
1. Mempelajari Kromatografi Lapis Tipis
2. Mempelajari cara pemisahan senyawa kromatografi lapis tipis

Teori:


Alat dan Bahan:

Alat:
1. Kaca Arloji
2. Micropipet
3. Hairdryer
4. Bajana Pemisah
5. Plat KLT
6. Lampu UV

Bahan:
1. Sampel
2. n-heksan
3. Metanol
4. Aseton

Prosedur Kerja:

1. Larutan n-heksan : metanol (8:2) dimasukan kedalam tabung kemudian ditutup dengan kaca arloji
2. Plat KLT disiapkan
3. Plat KLT diberi tanda bercak ditotolkan pada jarak 15mm dari tepi bawah lapisan
4. Jarak antara satu bercak awal dengan bercak lainnya diatur jadi 3-5mm
5. Jarak antara bercak paling pinggir dengan tepi samping diatur jadi 10mm
6. Lapisan tidak boleh rusak selama penotokan
7. Sampel ditotolkan dengan menggunakan micropipet yang terlebih dahulu dibersihkan dengan aseton
8. Micropipet dimasukan kedalam sampel
9. Plat KLT yang sudah ditotol sampel dimasukan kedalam bejana pemisah
10. Larutan n-heksan metanol naik keatas plat KLT
11. Plat KLT dikeringkan dengan hairdryer
12. Plat KLT dipancarkan dengan lampu UV lalu bercaknya ditandai
13. Perhitungan dilakukan

Hasil dan Pembahasan:

Dari sampel yang digunakan adalah rizhopora seberat 0,1 gram dilarutkan kedalam 1 ml metanol. Pelarut yang digunakan adalah kloroform dan metanol dengan perbandingan 9:1 dari 5ml pelarut dimana kloroform lebih banyak dari metanol. Dan setelah Plat KLT dimasukan kedalam bejana pemisah yang berisi pelarut tersebut, sampel secara perlahan akan naik keatas dan akan berhenti jika pelarut tersebut akan berhenti pada batas yang sudah ditentukan, sayang sekali dalam praktikum kali ini pelarut tidak mencapai batasnya yang sudah ditentukan dikarenakan butuh waktu yang sangat lama jadi dalam praktikium kali ini tidak ada perhitungan rf yang seharusnya dilakukan dengan bantuan Lampu UV.

Kesimpulan:

Dalam Praktikum Pemisahan Senyawa Dengan Kromatografi Lapis Tipis kali ini telah didapatkan sampel berupa rizhopora dapat naik keatas dengan menggunakan plat KLT yang di celupkan dalam pelarut berupa kloroform dan metanol tetapi membutuhkan waktu yan cukup lama dan butuh kesabaran yang tinggi.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. H Dhahiyat, Yayat Drs., MS; Bachtiar, Eri S.Si., M.Si; Mulyani, Yeni S.Si., M.Si. 2010. Penuntun Praktikum Farmakologi Laut. Bandung: Universitas Padjadjaran

Read More......

Pengujian Komponen Farmaka Dalam Simplisia

Pengujian Komponen Farmaka Dalam Simplisia

Tujuan:
1. Mengetahui jenis-jenis pengujian komponen farmaka
2. Mempelajari cara pengujian farmaka dalam simplisia

Teori:
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan, pengeringan atau perubahan apapun dari perubahan kimiawi dan fisikanya dan kebanyakan berwujud krim. Simplisia bisa berasal dari bahan hewani, nabati dan juga pelikan. Proses pembuatan simplisia pada prinsipnya tahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.


Alat dan Bahan

Alat:
1. Tabung Reaksi
2. Neraca analitis
3. Bunsen
4. Gelas ukur
5. Penjepit
6. Saringan
7. Pipet tetes
8. Kertas saring

Bahan:
1. Pereaksi Meyer ( kl + Hgcl2 )
2. Pereaksi Lieberman Burchard ( H2SO4 + asam asetat )
3. Amonia 10%
4. HCl 1N
5. CHCl3
6. HCl 2%
7. FeCl3

Prosedur Kerja:
Uji Alkoloid:
1. 4gr sampel berupa daun mangrove dipotong halus
2. Sampel digerus dengan lumpang dengan bantuan pasir yang bersih
3. Sampel dibasahi dengan 10ml kloroform
4. Kemudian ditambah dengan 10ml kloroform amoniak 0,05 M
5. Ditambah 0,5ml / 10 tetes asam sulfat 2N kemudian dikocok
6. Setelah keluar dua lapisan, lapisan asam sulfat diambil
7. Kemudian dimasukan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan 1 tetes pereaksi meyer
8. Diamati bentuk dan warna endapan
Uji Flavonoid:
1. 4gr sampel segar dirajang halus dan dididihkan dengan 25 ml etanol selama 15 menit
2. Sampel disaring dalam keadaan panas
3. Pelarut diuapkan sampai kering
4. Kemudian ditambahkan klorofoorm dan air suling (1:1) sebanyak 5 ml
5. Dikocok dan dibiarkan sejenak
6. Terbentuknya dua kloroform air, sebagian diambil dan dipindahkan dengan pipet kedalam tabung reaksi
7. Dimasukan bubuk kalsium dan beberapa tetes asam klorida pekat dan akil alkohol
8. Warna diamati

Uji Senyawa Fenolik:
1. Lapisan air dari uji flavonoid dimasukan kedalam plat tetes
2. Ditambahkan pereaksi FeCl3 1%
3. Warna yang terbentuk diamati

Uji Triterpenoid dan Steroid:
1. Lapisan kloroform dari uji flavonoid diambil sedikit kemudian dimasukan kedalam plet tetes
2. Dibiarkan sampai kering
3. Ditambahkan 1 tetes asam asetat anhidrida dan satu asam sulfat pekat
4. Warna yang terbentuk diamati

Uji Saponin:
1. 5 gram sampel dididihkan dalam 100ml air selama 5 menit
2. Sampel disaring dalam keadaan panas
3. Kemudian larutan diambil sebanyak 10 ml
4. Larutan dikocok secara vertikal selama 10 detik
5. Terbentuknya busa diamati

Hasil dan Pembahasan

Hasil:
Pengujian Warna Dan Busa Hasil
Uji Alkoloid Kuning Negatif ( - )
Uji Flavonoid Orange Positif ( + )
Uji Senyawa Fenolik Hijau Negatif ( - )
Uji Triterpenoid dan Steroid Merah Triterpenoid ( + ) lemah, Steroid ( - )
Uji Saponin Busa Hilang Negatif ( - )

Pembahasan:
Pada uji alkoloid sampel mangrove bersifat negatif itu berarti sampel tidak mengandung alkoloid dan mungkin disebabkan pada waktu praktikum pada uji alkoloid ini terlalu banyak meneteskan pereaksi meyernya. Pada uji flavonoid sampel bersifat positif mengandung flovonoid. Pada uji senyawa fenolik sampel bersifat negetif dan berwarna hijau yang menyebabkan sampel itu mengandung senyawa fenolik. Pada uji triterpenoid dan Steroid sampel bersifat positif lemah pada kandungan triterpenoid dan bersifat negatif pada steroid yang menyebabkan sampel jadi berwarna merah. Dan Terakhir pada uji saponin sampel mengelurkan busa kemudian setelah 10 menit busa hilang kembali yang menyebabkan sampel bersifat negatif dan tidak mengandung saponin.

Kesimpulan

Kesimpulan dari percobaan atau praktikum pengujian komponen farmaka dalam simplisia ini adalah sampel daun mangrove positif mengandung flavonoid dan triterpenoid dan tidak mengandung alkoloid, steroid, senyawa fenolik dan saponin.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. H Dhahiyat, Yayat Drs., MS; Bachtiar, Eri S.Si., M.Si; Mulyani, Yeni S.Si., M.Si. 2010. Penuntun Praktikum Farmakologi Laut. Bandung: Universitas Padjadjaran

Read More......

Pembuatan Simplisia dan Ekstrak Bahan Alam

Pembuatan Simplisia dan Ekstrak Bahan Alam

Tujuan:
1. Mempelajari cara pembuatan simplisia
2. Mempelajari cara mengekstrasi bahan alam

Teori:
Simplisia adalah bahan baku alamiah yang digunakan untuk membuat ramuan obat tradisional yang belum mengalami pengolahan, pengeringan atau perubahan apapun dari perubahan kimiawi dan fisikanya dan kebanyakan berwujud krim. Simplisia bisa berasal dari bahan hewani, nabati dan juga pelikan. Proses pembuatan simplisia pada prinsipnya tahap pencucian, pengecilan ukuran dan pengeringan.
Ekstrasi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapar mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa harus melarutkan material lainnya. Ekstrasi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya, ekstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ekstrasi menggunakan pelarut didasarkan kelarutan komponen terhadap komponen lain.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstrasi adalah:
 Tipe persiapan sample
 Waktu ekstrasi
 Kuantitas pelarut
 Tipe pelarut

Prinsip ekstraksi :

1) Prinsip Maserasi
Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari ada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di
dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. Maserasi merupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.

Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komonen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari,tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Keuntungan dari metode ini adalah peralatannya sederhana. Sedang kerugiannya antara lain waktu yang diperlukan untuk mengekstraksi sampel cukup lama,cairan penyari yang digunakan lebih banyak,tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin,tiraks,dan lilin. Metode maserasi dapat dilakukan dengan
modifikasi,seperti modifikasi maserasi melingkar,modifikasi maserasi digesti, modifikasi maserasi melingkar bertingkat, modifikasi remaserasi, modifikasi dengan mesin pengaduk, dan metode Soxhletasi.

Keuntungan metode ini adalah :
• Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung.
• Digunakan pelarut yang lebih sedikit.
• Pemanasannya dapat diatur.
• Kerugian dari metode ini:
• Karena pelarut didaur ulang,ekstrak yang terkumpul ada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas.
• Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya.
• Bila dilakukan dalam skala besar,mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi,seperti metanol atau air,karena seluruh alat yang berada di bawah komdensor perlu berada pada temperatur ini untuk pergerakan uap pelarut yang efektif.

Metode ini terbatas ada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut,misalnya heksan :diklormetan =1 :1,atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan,karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.

2) Prinsip Perkolasi
Metode ini terbatas ada ekstraksi dengan pelarut murni atau campuran azeotropik dan tidak dapat digunakan untuk ekstraksi dengan campuran pelarut, misalnya heksan: diklormetan = 1:1, atau pelarut yang diasamkan atau dibasakan, karena uapnya akan mempunyai komposisi yang berbeda dalam pelarut cair di dalam wadah.

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan yaitu sampel padat(marc) telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak antara sampel adat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak melarutkan komponen secara efisien.





Alat dan Bahan

Alat:
1. Batang pengaduk
2. Neraca analitis
3. Gelas ukur
4. Medium botol / Erlenmeyer
5. Pipet tetes
6. Evaporator
7. Corong saring
8. Kertas saring

Bahan:
1. Metanol sebagai pelarut
2. Sampel berupa daun mangrove

Prosedur kerja:
1. Sampel seberat 5 gram daun mangrove ditimbang
2. Sampel dicuci dengan air kran sampai bersih
3. Sampel tersebut dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
4. Sampel dirajang/dicacah dengan menggunakan pisau atau blender
5. Sampel dimasukan kedalam medium botol/Erlenmeyer
6. Metanol dimasukan kedalam sampel sampai terendam lalu tutup botol/Erlenmeyer tersebut.
7. Kemudian direndam hingga 24 jam
8. Sampel disaring dan diganti dengan metanol baru diaduk sekali-kali
9. Cairan hasil rendaman diuapkan menggunakan evaporator
10. Ekstrak dihasilkan

Hasil dan Pembahasan

Hasil setelah sampel 5 gram daun mangrove + 20 ml metanol disaring :
 Larutan menjadi 17,6 ml
 Berwarna Hijau pekat
 Beraroma seperti tembakau

Pembahasan:
Setelah 5 gram daun mangrove yang sudah dihaluskan dan ditambahkan 20 ml metanol kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring menghasilkan larutan dengan berat 17,6 ml dan berat ini lebih sedikit dari berat metanol yang ditambahkan sebelumnya yaitu seberat 20 ml dikarenakan mungkin adanya beberapa faktor di saat penyaringan. Dan juga dari hasil penyaringan tersebut dihasilkan pula Larutan berwarna hijau pekat yang di sebabkan oleh faktor pewarna dari daun mangrove tersebut yang berwarna hijau. Larutan tersebut juga memiliki aroma seperti aroma tembakau mungkin dikarenakan dari sampel daun mangrove tersebut yang mirip atau sejenis dengan tanaman tembakau.

Kesimpulan

Kesimpulan dari percobaan atau praktikum pembuatan simplisia dan bahan ekstrak alam ini adalah sampel daun mangrove yang telah dicampurkan dengan metanol kemudian melalui proses penyaringan itu bisa disebut sebagai simplisia dan bahan ekstrak alami sebagai hasilnya dari percobaan ini bisa di jadikan sebagai bahan obat alami.

Daftar Pustaka

Prof. Dr. H Dhahiyat, Yayat Drs., MS; Bachtiar, Eri S.Si., M.Si; Mulyani, Yeni S.Si., M.Si. 2010. Penuntun Praktikum Farmakologi Laut. Bandung: Universitas Padjadjaran

Read More......

Friday, 2 July 2010

holiday !

yeaaah ini dia holiday yang gw tunggu2 akhirnya datang haha liburan semester 2 telah tiba horaaaaaaaaaaaaay! haha :))
diliburan kali ini gw pasti balik dong alias pulkam ke CIREBON hehe asiknyaa nih liburan ckck abisnya nyokap n bokap alias bapake n mamake pergi umroh, wuuuih asik dong ya gw sendiri haha tapi sayang setelah gw jalanin beberapa hari tanpa orang tua kerasa boseeeeeeeeen banget dah sumpah ga bohong! haha kampret abis nih liburan, eh taunya hari jumat apa sabtu gitu (lupa) tiba2 aja ini hape geter 5 kali haha ga sadar gw, eh isinya semua temen gw si noza, dani and abah pada ngajakin futsal hahahasik akhirnya maen jugaa haha heran juga nih kok tiba2 abah ada di crb aja(jalangkung kali) haha

abisnyaa kita maen futsal, kita pun melanjutkan acara selanjutnya dengan nonton bareng worldcup 2010 BRASIL VS PORTUGAL. asssik dah disitu semuanya ngumpul dirumah gw ada si reza, abah, dani, noza, herland dan yang gak disangka samasekali itu tuh nih bocah yang namanya rizaldi yang datang tiba2 tanpa kasih konfirmasi dulu haha kocak dah sumpah ini bocah ckckc dan nonbar pun terasa bosan soalnya ni 2 tim portugal sama brasil sama2 ga bisa nyetak gol, deuh payah deh dan anak2 pun pada tepar gara2 futsal tadi haha ini dia fotonya ckckcekidoooot!


HAHAHAHA :)))


ini lagi si keong racun ikut ikutan tepar padahal gak ikut maen futsal haha :))

hahaha seru abis dah ni nobar, dan beberapa hari berikutnya pun kita mengadakan nobar lagi dirumah gw nonton pertandingan INGGRIS vz JERMAN haha sayang sekali si noza dan herland gak ikut huhuhu tap tak apalah tanpa mengurangi keseruan malam itu haha soalnya inggris kalaaah 4-1 hahaha puaaas banget gw ngejekin si abah, reza sama dani yang sama2 pendukung inggris haha cuman gw dan rizaldi doang yang dukung jerman haha semuanya lesu dan strees tuh pendukung inggris yahaha sampe stressnya mereka malah bufer video KEONG RACUN SINTA JOJO haha video yang sangat fenomenal ckckc bukan apa2, kita semua gak seneng sama lagunya dan videonya tapi seneng yang ada di videonya yaitu SINTA AND JOJO hahaha 2 wanita cantik yang buat tuh video haha ya ampun dah keasikan nonton video ini malah jadi lupa nonton bola argentina vs meksiko haha soaaaaaaaak!

besoknya tanpa lelah kita pun merencanakan pergi jalan2, semua udah oke kumpul dismansa jam 11 eh tapi malah gajadi si noza malah ngambek ke kita soalnya ngareet biasalah indonesia lah malah ditambah rizaldi dan dani ga dateng! taik abislah, alhasil noza pun pulang kerumah karena kesel dan kita bertiga(gw, reza, abah) gak mau dong ni acara jalan2 batal? yeaah alhasil cuman kita bertiga doang yang jalan jalan dan saya namakan jalan jalan ini dengan nama EKSPEDISI 3 PEMUDA MENCARI KEONG RACUN hahaha ini dia foto-fotonya ckckcekidooooot!











HAHAHAHA sampai disini dulu ya :))

Read More......